Peran Guru Dalam Membentuk Karakteristik Pada Peserta Didik

Nama.       : Erma Yunita Sari
Kelas/nim : PAI 4A/11901191
Makul.       : Magang 1


Apa itu karakteristik ?
Karakteristik merupakan sebuah sifat khas yang dimiliki oleh seseorang dengan perwatakan yang berbeda. Karakter atau watak adalah sebuah bentuk dari sifat batin yang akan memberikan pengaruh terhadap seluruh pikiran, perilaku dan budi pekerti. Bentuk karakter yang dimiliki setiap orang dalam kehidupan sehari-hari sebagai berikut : Pemarah, Penyabar, Ceria, Pemaaf, rajin, sombong, jujur, bijaksana dll.
Salah satu fungsi pendidikan adalah membentuk karakter peserta didik, yang meliputi karakter moral dan karakter kerja. Karakter moral dalam arti membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak mulia, sedangkan karakter kerja dimaknai karakter yang diperlukan dalam melakukan pekerjaan seperti bekerja keras, rajin, teliti dan sesuai dengan kesehatan dan keselamatan kerja. Tujuan pendidikan diantaranya adalah membentuk peserta didik agar tumbuh dewasa dengan memiliki karakter moral maupun karakter kerja, serta memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan pribadi maupun kebutuhan masyarakat. Dalam rangka menjalankan fungsi maupun mencapai tujuan pendidikan tersebut proses pendidikan harus diselenggarakan secara sistematis. Proses pendidikan tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter dan kemampuan peserta didik sehingga mampu hidup bersama secara sosial, beretika, bermoral, dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik.
Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik .
Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.
Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya.Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.
Pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di sekolah perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh sekolah di Indonesia negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.
Melalui program ini diharapkan lulusan memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.
Bagaimana cara seorang pendidik dalam membentuk Karakteristik pada peserta didik?
Sebagai seorang pendidik tentunya kita adalah orang kedua yang perlu dicontoh dan memberikan contoh oleh siswa setelah orang tua mereka, Guru atau pendidik merupakan ujung tombak dalam membangun karakter peserta didik. Oleh karena itu bagaimana sih caranya seorang pendidik dalam membangun karakter peserta didik ?
Sebagai seorang pendidik langkah awal yang harus kita lakukan yaitu memulai dari diri kita sendiri. Bagaimana kita akan membentuk karakter peserta didik jika sebagai seorang pendidik kita belum memiliki karakter yang baik. Sebelum pendidik atau guru membangun karakter peserta didik, alangkah baiknya guru harus mengetahui arti nilai karakter itu sendiri. Kemudian, baru menelaah seberapa penting nilai karakter tersebut, baik bagi guru itu sendiri maupun bagi peserta didik.
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai seorang guru dalam membentuk Karakteristik peserta didik yaitu :
1. Sebagai contoh siswa
Guru dipandang sebagai orang tua yang lebih dewasa oleh para siswanya. Dengan demikian siswa dapat menilai guru sebagai contoh dalam bertindak dan berperilaku. Hal ini menuntut guru harus pandai dalam menjaga sikap dan perilaku guna memberikan contoh terbaik. Sehingga dapat menuai hasil yang baik pada peserta didik.
Contohnya guru harus lebih berhati-hati dalam bersikap baik itu didepan siswa atau dibelakang siswa. Dengan begitu diharapkan siswa dapat mengikuti sisi positif yang di miliki oleh guru.
2. Menjadi apresiator
Sebagai seorang guru hendaknya tidak hanya sekedar mementingkan nilai akademis, tetapi juga harus mengapresiasi usaha setiap siswa karena itu akan menimbulkan rasa percaya diri bagi siswa selain itu akan menumbuhkan rasa semangat yang besar dalam diri siswa untum belajar. Sebagai seorang pendidik menilai siswa dari segi akademis memang penting, tetapi guru juga perlu mengingat bahwa menghargai kebaikan yang dilakukan siswa juga sangat perlu.
Contoh sederhana yang dapat dilakukan oleh guru dalam memberikan apresiasi siswa yaitu dengan cara memberikan pujian kepada siswa.
3. Bersikap jujur dan terbuka pada kesalahan
Untuk memberikan contoh yang baik sebagai guru sebaiknya mau mengakui kesalahan yang dibuat sekecil apapun itu. Sehingga hal itu akan teringat dalam diri siswa untuk bersikap yang sama ketika melakukan kesalahan meski tidak disengaja.
Sebagai manusia kita harus berani jujur kepada diri sendiri dan orang lain, serta mengakui kesalahan yang telah diperbuat . Dari sini siswa dapat belajar bagaimana untuk memperbaiki serta beranu bertanggung jawab atas segala kesalahannya.
4. Mengajarkan sopan santun
Hal yang sering luput diajarkan di sekolah adalah bagaimana cara bersikap sopan santun. Mungkin terdengar sederhana, tetapi ini merupakan hal penting yang layak diajarkan kepada siswa untuk menjaga sikap dan mengetahui mana yang benar dan salah.
Tidak jarang guru menemui siswa yang bersikap tidak sopan hanya karena mereka tidak tahu bagaimana cara bersikap yang baik dan benar. Atau malah selama ini mereka mencontoh sikap negatif orang di sekitarnya. Sehingga mereka menganggap itu sebagai hal yang lumrah.
Ada baiknya, ketika ada siswa bersikap kurang baik atau kurang sopan, guru berperan untuk mengoreksi sikap tersebut. Jangan memarahi, tetapi cukup mengingatkan saja bahwa sikapnya itu kurang baik dan berikan alternatif tindakan lain yang lebih positif. Gunakan pendekatan yang halus namun mengena.
5. Memberi kesempatan siswa belajar menjadi pemimpin.
Karakter menjadi seorang pemimpin itu merupakan hal yang krusial untuk dimiliki. Dengan begitu alangkah baiknya guru juga bisa membantu siswa untuk melatih jiwa kepemimpinan peserta didik.
Cara sederhananya, bisa dengan membuat tugas kelompok dan memastikan setiap anggota mempunyai kesempatan sebagai ketua kelompok. Jadi, tidak hanya siswa itu-itu saja yang jadi ketua kelompok, tetapi semua bisa belajar jadi pemimpin.
Setelah melakukan aktivitas ini, guru bisa mengevaluasi hal positif yang bisa jadi pembelajaran siswa untuk memimpin lebih baik lagi. Berilah masukan yang memotivasi, jadi bagi siswa yang merasa kurang percaya diri bisa semangat untuk terus belajar lebih baik lagi.
6. Berbagi pengalaman inspiratif
Tidak ada salahnya, sesekali menceritakan pengalaman personal yang dimiliki guru untuk dibagikan kepada para siswa. Tidak harus cerita yang hebat untuk menginspirasi, sekecil apapun pengalaman yang diceritakan tetap bisa menjadi pembelajaran yang berguna untuk para siswa, dengan begitu siswa dapat menanamkan sifat inspiratif dalam diri mereka.
Maka dari itu pendidikan karakter sangatlah penting untuk guru pahami dan pelajari. Sekolah merupakan wahana pengembang pendidikan karakter bagi Peserta didik. Guru sebagai pendidik Mempunyai tanggung jawab yang sangat Besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Guru merupakan teladan bagi siswa dan mempunyai peran yang sangat besar dalam pembentukan karakter siswa. Guru tidak hanya menguasai dibidang Akademik tetapi juga pendidikan karakter yang akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas akan membantu anak bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan gotong-royong, saling membantu dan menghormati.