Erma Yunita Sari 11901191 kultur sekolah
Istilah kultur berasal dari bahasa Inggris “culture” yang dalam keseharian disinonimkan dengan istilah “budaya”. Kultur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebudayaaan (Depdiknas, 2001: 611). Istilah budaya sendiri dalam berbagai wacana, ada yang membedakan dan ada juga yang menyamakannya dengan kebudayaan (Koentjaraningrat, 1983: 183). Dikatakan berbeda sebab budaya berasal dari bahasa Sanskerta “buddhi”, yang berarti “budi” atau “akal” yang berupa cipta, rasa, dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa itu. Dikatakan sama sebab dari segi anthropologi budaya misalnya, budaya merupakan singkatan dari kebudayaan. Dengan demikian, kedua istilah itu sebenarnya mempunyai pengertian yang sama.
Berikutnya Koentjaraningrat (1983: 184) menyatakan bahwa kebudayaan atau budaya mempunyai tiga macam wujud, yaitu:
a. kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, norma atau peraturan
b. kebudayaan sebagai aktivitas atau tindakan manusia yang berpola sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat
c. kebudayaan sebagai hasil karya Menyimak pendapat di atas dapat dijelaskan
bahwa budaya atau kultur dengan demikian dapat mengandung pengertian dalam istilah populer dan istilah teknis. Pengertian ini sering digunakan dalam bidang sosial dan Anthropologi. Penggunaan istilah populer lebih condong merujuk kepada minat dan aktivitas tertentu, misalnya musik, sastra, seni (budaya sebagai hasil karya). Budaya dalam istilah teknis, mengandung pengertian segala yang hidup di dalam suatu kelompok (manusia) seperti yang disampaikan oleh Pai (1990: 21) bahwa: “culture is the whole of humanity‟s intellectual, social, technological, political, economic, moral, religious, and aesthetic accomplishments”.
Gagasan memandang organisasi sebagai budaya atau kultur menurut Robbins (1993: 601- 602) dikarenakan pengertian organisasi tidak semata-mata dapat dibayangkan sebagai “alat rasional untuk mengkoordinasi dan mengendalikan sekelompok orang melalui tingkat-tingkat vertikal, departemen, hubungan wewenang dan seterusnya”, melainkan juga sebagai “suatu sistem dari makna yang dianut bersama di kalangan anggota-anggotanya”. Seperti halnya individu, organisasi mempunyai
kepribadian; bisa tegar atau fleksibel, tidak ramah atau mendukung, inovatif atau konservatif. Lebih jauh Ia mencontohkan bahwa Harvard dan MIT sama-sama menggeluti bisnis di dunia pendidikan dan terpisah hanya selebar sungai Charles, tetapi masing-masing mempunyai perasaan dan karakter yang unik di luar karakteristik strukturalnya. Pandangan inilah tampaknya yang menguatkan munculnya istilah budaya organisasi (organizational culture) atau pun corporate culture di kalangan ilmuan dalam mengkaji masalah berkenaan dengan perilaku organisasi.
Selanjutnya Robbins juga menyatakan, tampaknya ada kesepakatan yang luas bahwa budaya organisasi mengacu ke suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota- anggota yang membedakan organisasi itu dengan organisasi-organisasi lain. Sistem makna bersama ini, bila diamati dengan lebih seksama, merupakan seperangkat karakteristik utama yang dihargai oleh organisasi itu (common perception held by the organization‟s member; a system of shared meaning).
Penerapan istilah budaya atau kultur pada organisasi termasuk lembaga pendidikan menurut Sastrapratedja (2001: 1) merupakan fenomena yang relatif baru. Sebelumnya pada awal tahun 1960-an digunakan istilah “organization culture” yang sinonim dengan “climate” atau “suasana”. Selanjutnya pada 1970-an, istilah serupa “corporate culture”, mulai digunakan dan menjadi populer dengan terbitnya buku Deal dan Kennedy yang berjudul Corporate Culture: The Rites and Rituals of Corporate Life.
Sastrapratedja (2001: 1) juga menyatakan tidak ada satu definisi baku tentang pengertian corporate culture atau organizational culture. Senada dengan hal ini Deal & Peterson (1999: 3)
menyatakan: “Óf the many different conception of culture, none is universally accepted as the one best definition”. Deal & Kennedy (Deal & Peterson, 1999: 3) misalnya, melihat budaya organisasi sebagai “sesuatu” yang dimiliki organisasi, berupa sistem dari makna dan keyakian bersama (shared beliefs and values that closely knit a community together). Dengan kata lain budaya organisasi adalah suatu komponen organisasi dan bukan organisasi itu sendiri.
Menurut Schein (Gibson, et al, 2003: 31) budaya dapat didefinisikan sebagai:
a pattern of basic assumptions --- invented, discovered, or developed by a given group as it learns to cope with problems of external adaptation and internal integration that has worked well enough to be considered valid and, therefore, to be thaugt to new members as the correct way to perceive, think, and feel in relation to those problems.
Berikutnya Schein (1992: 8-10) juga mengidentifikasi unsur-unsur budaya atau kultur (dalam) organisasi sebagai: (1) observed behavioral regularities when people interact; (2) group norms; (3) espoused values; (4) formal philosophy; (5) rules of the games; (6) climate;
(7) embedded skills; 8) habits of thinking, mental model, and/or linguistic paradigms; (9) shared meaning; dan (10) root metaphor or integrating symbols.
Sastrapratedja (2001: 2-3) juga menguraikan aspek-aspek penting dari budaya atau kultur organisasi dari berbagai hasil penelitian sebagai berikut:
a. Budaya merupakan hasil cipta komunikasi. Budaya muncul dan dipertahankan oleh tindakan-tindakan komunikasi dari semua anggota dan
bukan hanya strategi dorongan dari para manajer di atas.
b. Budaya terdiri atas asumsi-asumsi yang diandaikan, makna yang dihayati bersama dan nilai-nilai yang mendasari pemecahan masalah-masalah kritis, pengambilan keputusan, pengendalian, komunikasi antarwarga, persepsi dan pembenaran tindakan.
c. Budaya menggejala dalam rutinitas sehari-hari, dalam proses pembentukan identitas organisasi.
Mencermati uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kultur atau budaya dalam suatu organisasi dapat dikatakan sebagai ide, gagasan atau nilai, persepsi, serta pandangan hidup tentang suatu organisasi yang tampak dalam aktivitas yang berpola, teratur, dan ada unsur kebiasaan, serta dapat menghasilkan sesuatu sebagai karya organisasi/kelompok.
Berbicara mengenai budaya suatu organisasi sesungguhnya menyangkut pandangan makro yang mengacu pada budaya dominannya. Budaya dominan mengungkapkan nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh suatu mayoritas anggota organisasi. Dalam setiap budaya sesungguhnya terdapat juga anak budaya (subkultur). Menurut Robbins (1993: 605) subkultur ialah budaya- budaya mini di dalam suatu organisasi yang lazimnya ditentukan oleh rambu departemen dan pemisahan geografis. Ini akan mencakup nilai inti dari budaya dominan plus nilai-nilai tambahan yang unik bagi anggota-anggota departmen tersebut.
Sekolah adalah juga sebuah organisasi yang di dalamnya terdapat sekumpulan orang-orang yang masing-masing mempunyai tujuan, mereka terhimpun ke dalam satu susunan yang masing- masing mempunyai tugas dan tangung jawab. Sebagai sebuah organisasi sekolah adalah institusi yang mempunyai peran dan tujuan/harapan. Dalam menjalankan peran dan mencapai tujuan itu di dalamnya berlaku norma, aturan, atau ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan kerja antara orang yang satu dengan yang lain. Dikaitkan dengan pendapat Robbins, maka sebagai sebuah organisasi sekolah pun juga memiliki suatu sistem makna bersama yang dianut oleh orang-orang yang ada di dalamnya yang dapat disebut sebagai budaya sekolah.
Siswa merupakan salah satu subsistem dalam sistem organisasi sekolah yang dengan budaya atau subkulturnya sendiri turut mewarnai budaya khas suatu sekolah, di samping budaya yang ada di kalangan guru, staf dan yang lainnya. Jika dalam wacana yang menyangkut organisasi secara umum sistem itu disebut sebagai organization culture, maka dalam organisasi sekolah itu disebut sebagai school culture.
Untuk maksud penelitian ini selanjutnya digunakan istilah kultur sekolah sebagai padanan dari school culture. Peneliti tidak menggunakan istilah budaya sekolah untuk menghindari kerancuan pengertian oleh makna budaya dalam aspek yang lain seperti halnya dalam istilah populer. Istilah kultur sekolah dalam beberapa literatur juga telah digunakan diantaranya oleh Zamroni dalam bukunya Paradigma Pendidikan Masa Depan. Bahkan untuk maksud yang sama, istilah serupa juga digunakan dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
2. Pengertian Kultur Sekolah
Menurut Zamroni (2000: 149), konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses produksi
(baca: pembelajaran) secara efektif dan efisien. Sebagaimana tidak ada satu definisi baku tentang budaya, demikian juga tidak ada definisi baku mengenai kultur sekolah.
Berdasarkan berbagai definisi tentang budaya, Zamroni merumuskan pengertian kultur sekolah sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, di mana kultur sekolah tersebut dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.
Tokoh lain Phillips (1993: 1) mendefinisikan kultur sekolah sebagai “The beliefs, attitudes, and behaviors which characterize a school”, yaitu kepercayaan, sikap, dan perilaku yang mencerminkan karakteristik suatu sekolah. Berikutnya Richardson (Masden & Wagner, 2005: 1) mendefinisikan ktltur sekolah sebagai: “…is the accumulation of many individuals‟ values and norms. It‟s the group‟s expectations, not just an individual‟s expectations. It‟s the way everyone does business.” Menurutnya, kultur sekolah merupakan akumulasi nilai-nilai dan norma-norma sekelompok orang; pandangan kelompok ke depan, bukan individu; dan cara setiap orang dalam memandang dan memecahkan persoalan.
Sergiovanni (Masden & Wagner, 2005: 2) menekankan makna kultur sekolah dalam kaitannya dengan upaya menciptakan sekolah efektif dengan menyatakan:
The culture of a school is particularly important. Most successful school leader will tell you that getting the culture right and paying attention to how parents, teachers, and students define and experience meaning are two widely
accepted rules for creating effective schools. Paying attention to the values and how they are exhibited in rituals, traditions, stories and other demonstrations of ”how we do things here” provides the infrastructure for school improvement. One mode of exhibiting school culture is throught the collaborative planning, implementation and evaluation of specific professional development is accepted and embraced by all.
Berdasarkan beberapa konsep di atas kultur sekolah dapat dijelaskan sebagai nilai, persepsi, keyakinan, sikap dan cara hidup serta perilaku yang berpola, teratur dan ada unsur kebiasaan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang dan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu sekolah yang terbentuk sepanjang perjalanan sebuah sekolah.
3. Elemen-elemen Kultur Sekolah
Sebagaimana telah digambarkan dalam pengertian di atas, kultur sekolah merupakan perangkat budaya yang terdiri dari sejumlah norma-norma, ritual-ritual, keyakinan, nilai-nilai, sikap, mitos, dan kebiasaan yang terbentuk sepanjang perjalanan sekolah yang bersangkutan. Bentuk kultur sekolah secara intrinsik muncul sebagai sebuah fenomena yang unik dan menarik, karena pandangan, sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah pada dasarnya mencerminkan, kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga sekolah yang dapat berfungsi sebagai suatu spirit yang mendukung dan membangun kinerja sekolah.
Hedley Beare (Sastrapratedja, 2001: 14) mendeskripsikan unsur-unsur budaya sekolah dalam dua katagori, yakni unsur yang kasat mata/visual dan unsur yang tidak kasat mata.
Unsur yang kasat mata mempunyai makna kalau berkaitan atau kalau mencerminkan apa yang tidak kasat mata. Yang tidak kasat mata itu adalah filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia di dunia dan nilai-nilai, yaitu apa yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Itu semua harus dinyatakan secara konseptual dalam rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran yang lebih konkrit yang akan dicapai sekolah. Adapun unsur yang kasat mata dapat termanifestasi secara konseptual/verbal maupun visual/ materil. Yang verbal meliputi: (1) visi, misi, tujuan dan sasaran; (2) kurikulum; (3) bahasa komunikasi; (4) narasi sekolah; (5) narasi tokoh-tokoh; dan (6) struktur organisasi; (7)
ritual; (8) upacara; (9) prosedur belajar- mengajar; (10) peraturan, sistem ganjaran/hukuman; (11) pelayanan psikologis sosial; (12) pola interaksi sekolah dengan orang tua/masyarakat, dan yang materiil dapat berupa:
(1) fasilitas dan peralatan; (2) artifak dan tanda kenangan; (3) pakaian seragam.
Disebutkan dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah (Depdiknas, 2003: 3) bahwa kultur sekolah memiliki dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak dapat diamati. Lapisan yang bisa diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara, ritus- ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar- gambar, tanda-tanda sopan santun dan cara berpakaian. Lapisan yang tidak dapat diamati secara jelas dapat berintikan norma perilaku bersama warga suatu organisasi. Lapisan kedua kultur sekolah berupa nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar.
Link : https://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/tjmpi/article/download/839/613